Rabu, 18 April 2012

Haji Ngeteng: Kupenuhi Panggilan-Mu - Eko Kusuma - Jasa Penerbitan Buku Indie HM Pub.



Ada tiga nilai besar yang bisa saya petik serampung membaca kisah ini: kesabaran, rasa syukur, dan keikhlasan.

Saya kagum pada kelincahan keluarga tokoh utama dalam menyiasati tikus-tikus yang menyerbu rumah mereka (tentu saja selain air hujan yang siap menyulap rumah menjadi perahu); atau pada ketulusan tokoh menjalani setiap misi Allah walau kerap tampak tak sejalan dengan rencana pribadi; juga pada setiap ekspresi jujur seorang hamba demi mengecup indah mimpi berkunjung ke Baitullah meski harus diwarnai liku-liku peristiwa yang ternyata menyiratkan banyak hikmah dan pelajaran mendalam bagi sang tokoh.

Sebuah novel sederhana yang ditulis dengan lembut namun penuh energi spiritual. Saya tak sanggup membendung air mata pada setiap adegan di Mekah yang dilukiskan dengan puitis dan bernas. Bayangan Masjidil Haram semakin kuat di benak saya dan kerinduan pada Muhammad akhirnya pecah menjadi sebuah puisi cinta. Sungguh sebuah perjalanan suci yang bermakna dan inspiratif. 100% wajib dibaca!
(Rudi G. Aswan, editor dan penerjemah, www.tenteraverbisa.wordpress.com)


Sawasdee khrap ...
Naik haji dari Indonesia? Sudah biasa ! Naik haji dari Thailand dengan cara ngeteng pula? Ini baru luar biasa ! Tak semua orang mendapatkan pengalaman hebat naik haji dari negeri jiran, negeri gajah putih yang kondang sebagai ‘surga’ para penikmat syahwati. Di tengah-tengah konflik sosial politik pula, yang membuat perjalanan haji tak bisa berlangsung secara normal. Membaca kisah haji ngeteng Eko Kusumawijaya dan kisah-kisah lain yang merupakan percikan perjalanan hidup sang penulis, kita seperti di bawa ke arah puncak kesyukuran sebagai Hamba Allah. Dimanapun dan bagaimanapun hidup kita mesti disyukuri. Dengan cara bagaimanapun pergi haji, mesti juga disyukuri. Two thumbs up buat Eko Kusumawijaya and let’s start reading this great novel !
(Heru Susetyo, Dosen Tetap FHUI dan Mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand 2009 – 2010)

“Subhanallah.. Subhanallah.. Subhanallah... mengharukan dan menyentuh. Perjalanan haji dari Bangkok, Thailand, kala itu memang dihadapkan kendala yang ditimbulkan manusia. Namun pendekar yang ikhlas dan sabar dan selalu berpegang teguh pada tali Allah SWT tidak akan takut pada manusia karena Allah lah penguasa alam ini. Dia lah pemberi dan pembuka jalan selama kita tunduk dan patuh pada-Nya. Seberapa banyak orang yang kemudian terus mundur dengan keadaan tersebut, karena pekerjaan atau agenda politik yang tidak jelas. Sempat saya berkata pada seseorang yang sudah berniat haji kala itu “yakinlah ini hanya situasi politik, semua bisa berubah bila Allah berkehendak lain, jalan terus.. Insya Allah”. Tapi apa daya, ada yang terpaksa membatalkan karena pekerjaan dan desakan atasan, tapi ada banyak yang lain yang maju terus pantang mundur dan tidak peduli dengan basa basi politik dan bisnis manusia. Alhamdulillah mereka kembali dengan wajah ceria dan Insya Allah mabrur.

Saat melepas keberangkatan para jemaah ini, saya sempat iri dengan keteguhan dan kesabaran, tidak ada yang protes dan mengeluh. Semua berusaha mengerti dan memahami keadaan yang ada, tawakaltu Illallah. Dari wajah, seolah-olah telah memaknai kalimat toyibah sedang hamba yang patuh untuk memenuhi panggilan “Labaik Allahumma Labaik. Labaik la syarikalaka labaik. Innal hamda wanikmata laka walmulk. La syarikalak”.
Terima kasih dapat menjadi bagian dari cerita novel ini. Semoga novel ini dapat menjadi ibroh bagi kita semua”
(Sulaiman Narowi – Staf KBRI di Bangkok, Thailand)

“Novel ini mengajarkan bahwa hidup penuh dengan perjuangan yang tak boleh kenal kata menyerah kecuali pada suatu perhentian untuk berjumpa dengan-NYA kelak. Tentang pentingnya nilai suatu niat serta arti kata syukur kepada Illahi Rabbi, Yang Maha Perencana. Alur cerita yang menerawang ke depan dan ke belakang, menantang pembaca untuk merunutkan jalan cerita yang sesungguhnya. Terima kasih telah berbagi pengalaman yang sarat hikmah kepada kami”
(Ide Noer Arief dan Mira Kania Dewi – Tetangga saat tinggal di Bangkok, Thailand)

Bagus dan Inspiratif!
Membaca novel ini mengingatkan akan nostalgia kehidupan di Bangkok, masa-masa bersama dengan keluarga Penulis. Tidak terbayang kehidupan yang dialami keluarga kecil yang bahagia ini penuh dengan lika-liku, ujian yang semakin menguatkan mereka. Keikhlasan, kebaikan, kesederhanaan telah diajarkan walau berjumpa sebentar saja di negeri ini. Saat berjumpa menjelang kepergian Haji, tak tampak keletihan, padahal penulis dan istri telah melalui perjalanan yang panjang...

Setiap episode di buku ini mengajarkan hikmah bagi yang membacanya untuk lebih membuka hati, dan memaknai setiap peristiwa dengan sikap positif, sabar dan penuh kesyukuran.
(Selvia Lirita – Tetangga saat tinggal di Bangkok, Thailand. Penulis Buku ‘Cara Praktis Belajar Bahasa Rusia’)

Membaca cerita yang berawal dari pertemanan dengan sekelompok tikus tapi pada akhirnya dapat menapak kan kaki ke tanah suci dikarenakan undangan yang sangat panjang perjalanannya (ibarat kiriman wesel orangtua dari kampung untuk sang anak yang kost nya di kota ~ buat yang mengalami akan paham bagaimana rasanya) membuat saya pribadi ingin membuat pocket book ‘haji ngeteng’ ikutan, kalau tidak boleh seri dua.

Perkenalan saya dengan Haji Eko dan Hajjah ‘mbak Nina’ sebenarnya boleh dikatakan biasa-biasa saja, sebatas umat yang sama-sama merantau di tanah orang. Tapi entah mengapa dari pertemuan yang seadanya, ternyata setiap momen nya menimbulkan kesan yang selalu enak untuk diceritakan kembali di rumah. Dan cerita-cerita yang dibawa ke rumah semakin banyak dan membekas lebih dalam setelah perjalanan kami bersama ke tanah haram.

Untuk testimoni rasanya terlalu banyak yang mau disampaikan, sampai saya berpikir mau mengusulkan satu bab tambahan di dalam buku ini yang khusus bagian saya saja …hahaha... Begitu banyak hal menarik yang saya dapatkan dari pasangan ini selama masa kami bersama di tanah suci. Entah mengapa saya tidak canggung mengucapkan kami, sama halnya saya tidak merasa canggung saat bergandeng tangan dengan mbak Nina van Gina walau tangan beliau yang satunya bergandeng dengan Haji mas’ Eko.  Saya yang saat itu bertamu seorang diri merasa bahagia mendapat teman bergandeng tangan - bukan satu malah sepasang - berjalan memutar Kabah, menyusur lorong-lorong manusia mencari saf ibadah, menikmati subuh-subuh indah dari lantai tiga Mesjid yang megah, bahkan berbagi cerita di kamar tentang hati yang bahagia, tak luput gundah … yang pasti ingin di ulang semua, insyaAllah …

Ada hal yang terluput rasanya dalam buku ini, cinta yang bersahaja. Satu hal yang tidak bisa saya lupakan dari perjalanan yang indah ini adalah rasa kasih yang dimiliki oleh kedua pasangan gandengan saya. Dalam doa padaNya tidak luput saya mendoakan agar kasih keduanya kekal adanya dan saya diberi kesempatan untuk menikmati hal yang sama. Mungkin kalau saya diberi keringanan jari dan kesempatan, ingin hati menuangkan semua rasa kasih mereka – yang saya turut rasakan - itu, mungkin berrjudul “Kasih dalam semangkuk mie rasa tomat” atau mungkin “SMSmu membungakan hatiku yang sedang flu” ~  mbak Nina and mas Eko, so blessed to have known you.
(Putri Eyanoer – Dosen USU, Medan)

“Di suatu masjid kecil di luar Mekkah, ada serombongan haji yg ‘camping’ di bis-nya. Bis mereka bukan jenis ‘camper van/caravan’ mewah, tapi cenderung jelek, walopun tidak sebutut kopaja di Jakarta. Bis itu bukan bis bertingkat, tapi mereka sekat menjadi bagian atas dan bawah menggunakan semacam papan. Yang atas untuk tempat mereka tidur (harus merunduk2 tidak bisa berdiri tentunya), bawah untuk bagasi mereka. Sebagian mereka sibuk menjemur cucian di sela-sela bis. Pemandu haji kami bertutur bahwa mereka jamaah haji dari negeri pecahan Rusia. Mereka susuri ribuan kilometer jalan darat dari negeri mereka, menembus berbagai batas negara, hingga Mekah. Tiba-tiba perjalananku menyusuri Asia Tenggara sebelum akhirnya boarding di pesawat haji di Phuket, Thailand terasa begitu pendek dan mudah!”
(S. Pambayuning – Tukang Cari Minyak. Tinggal di Bangkok, Thailand)

Looking back, there really were interesting things. I can seem to recall myself, all confused and in the middle of Ulangan Semester, texting my parents about questions I couldn’t solve. My mum and dad really helped.

I did hope, but never did expect this story to be published. Finally, haha. I say, my dad’s writing style is quite different from mine. And I am willing to take a little credit for the book cover, in which I got all prissy and a little bit bossy about how I wanted it to be. So, thanks to the cover illustrator for being so patient to all the changes I buggered you with.


Someday in the future I WILL publish my writing, too. Ha! Watch me, Bi.
(Nadaa Farradhina Azalea Kusuma – Pelajar SMAN 2 Bandar Lampung)

Segera dapatkan buku penuh inspiratif ini di Toko Buku Online HalamanMoeka.Comhttp://halamanmoeka.com/4961-haji-ngeteng-kupenuhi-panggilanmu.html


Pupular Posts:
  1. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  2. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  3. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  4. Jasa penyuntingan/editing naskah
  5. Jasa tata letak/layout naskah
  6. Jasa desain sampul/cover buku
  7. Jasa ilustrasi buku
  8. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  9. Cetak buku massal
  10. Jasa Penulisan Biografi

0 komentar: