Minggu, 10 Juni 2012

Khalifah dan 2012 Tafsir Sup Jengkol - Amran Hidayat - Jasa Penerbitan Buku Indie HM Publishing

KATA PENGANTAR  PENULIS:


Seiring waktu yang terus berlari, sedemikian rupa perubahan demi perubahan tak terhenti.Selarasnya dunia dengan usianya yang semakin tua, adalah motivasi bagi manusia untuk bertahan melestarikannya.

Sejurus, hampir semua orang menginginkan kelestarian. Namun faktanya, hampir seluruh penduduk dunia merasa bahwa dirinya bukan penanggungjawab utama atas kerusakan ada di muka bumi ini. Selangkah demi selangkah, bumi dinikmati tanpa terpikirkan bagaimana nasibnya ke depan nanti.Generasi yang cenderung menginginkan kepuasan pribadi, menjadikan nilai-nilai kelestarian seolah tertinggalkan tanpa jejak.

Semunya kebenaran dan langkanya jejak menuju Tuhan, adalah faktor tunggal yang menjadikan dunia seperti ini. Hilangnya nilai-nilai moral, adalah gambaran akan semunya kebenaran. Dan musnahnya figur-figur panutan adalah penyebab hilangnya jejak-jejak kebenaran.

Realitanya adalah, agama hanya dijadikan pertolongan terakhir (di saat usia senja atau menjelang kematian). “Peran siapakah, hingga semua ini telah terjadi?”  Jawabannya adalah ;

1.    Syetan sudah semakin mahir dalam menggoda.

Iblis sebagai raja dari segala kejahatan,pastinya sudah semakin matang dalam strateginya untuk menggoda manusia. Latar belakangnya yang tercipta dari api telah menunjukkan wujud karakternya yang membuat dunia semakin panas untuk dihuni.

Selimut lapar ditengah kemewahan, selimut takut ditengah ketenangan, telah menjelma menjadi nyata di tengah-tengah kehidupan kita. Inilah tanda kemurkaan Tuhan, yang merupakan bukti keberhasilan Iblis dalam menjalankan tugasnya sebagai sang penggoda.

2.    Agama dianggap bukan solusi.

Terlihat sudah, begitu anehnya orang yang menjalankan perintah agama, begitu bodohnya orang yang baik, dan tak jarang orang menertawai para pengabdi Tuhan.

“Inilah realita akhir zaman.Inilah janji-Nya yang nampaknya akan segera Ia tepati. Dan ini pula yang menjadikan saya terpanggil untuk kembali berusaha mengingatkan manusia akan nikmatnya beragama, walaupun asing dalam pandangan orang.”

Demikianlah dunia dengan realitanya, tinggallah manusia (selaku pemimpin)  yang menentukan, ”Mau dibawa kemana kehidupan ini?”


Jakarta,07 Juni 2011
Penulis,


Amran Hidayat Saragih.

0 komentar: