Selasa, 03 Juli 2012

Rehat Bersama Kyai Kocak 2: Puasa Kompak Lebaran 2 Shift - Ust Abdul Mutaqin - Halaman Moeka P.

“Masih inget Kyai Adung? Horeee ..., tokoh fiktif itu datang lagi. Buku ini merupakan kisah kocaknya yang kedua setelah buku Rehat Bersama Kyai Kocak. Kisah seputar puasa dan lebaran tahu kemaren.”

Bagi kyai Adung sendiri, puasa selalu punya makna mengulang kenangan di masa kecil. Ternyata kenangan masa kecilnya berpuasa, masih pula dijumpai sampai saat ini. Apalagi lebarannya jadi tambah meriah, karena lebaran digelar dua shift. Qiqiqiqiqi.

Ramadhan adalah moment istimewa. Waktu kecil dulu yang paling umum dirasakan istimewa adalah saat berbuka, tarawih dan makan sahur. Belum kepada substansi nilai  ibadah puasanya.

Menjelang tiba berbuka, ingin rasanya menghabiskan semua yang ada di meja sedetik setelah adzan Maghrib berkumandang. Lalu semua isi gelas dan piring dieksekusi hingga perut kekenyangan.

Tarawih adalah juga saat istimewa. Awalnya aneh,  solat kok banyak banget rokaatnya. Selalu saja setiap selesai salam, menghitung berapa rokaat lagi tarawih berakhir. Makin tambah hari makin mengerti,  tarawih itu sebelas rokaat. Buanyaak. Tapi ternyata ada yang dua puluh tiga rokaat. Alamaak... lebih buanyak.

Namanya anak-anak, bilangan rokaat itu sering dijadikan ukuran banyaknya pahala. Tetapi lain waktu malah pindah masjid karena alasan cape dan mencari yang sebelas. Ah,  namanya anak anak.

Saat makan sahur saat paling menyebalkan. Ngantuk,  malas dan bete. Tapi suka marah kalo tidak ikut dibangunkan untuk makan sahur. Atau baru bangun saat imsak sudah tiba. Apeslah, kebanyakan waktu itu orang lebih memilih tidak makan sahur kalo yang namanya makhluk imsak sudah datang.

Sejak Shubuh sampe jam setengah sebelas siang, masih kenceng niatan puasa. Jam sebelas ke atas sudah mulai kendor. Habis Dzuhur ke atas ngampleh dan sering main di masjid dekat kolam wudhu.

Berpuasa sering curi-curi beberapa teguk air saat berwudhu. Tetapi sangat patuh dengan larangan ngupil atau kentut di dalam air karena kata orang orang tua perilaku demikian itu membatalkan puasa. Hahaaay... berani curi-curi minum tapi takut ngupil. Itulah puasa dengan wajah tempo dulu. Puasa yang lebih banyak dijalankan dengan kepatuhan pada tradisi daripada kesadaran bayani. Ah namanya puasa anak-anak.
Puncak dari keistimewaan Ramadhan adalah baju baru,  ketupat, semur dan opor ayam.  Ya,  lebaran.

Bedug ditabuh menyambut lebaran sejak lepas Ashar hingga menjelang Shubuh mengiringi takbiran. Antusiasme anak-anak menyambut lugu hari kemenangan itu kenceng sekali. Tak peduli bahwa lebih dari sepuluh teguk air melewati kerongkongan mereka saat wudhu di kolam masjid  mencuri pahala puasa mereka. Tak peduli, yang penting ikut lebaran.

Uang persenan menambah riang hari raya. Saku saku berjubel oleh uang lembaran seratusan, seribuan hingga sepuluh ribuan.  Sebelum menerima uang persenan, anak-anak wajib menjawab pertanyaan soal pool atau tidak puasa sebulan. Siapapun akan menjawab pool. Tak peduli berapa teguk air saat wudhu dicurinya. Yang penting sakunya bertambah seret dan penuh sesak.

Kyai Adung pernah kecil. Melewati masa masa belajar berpuasa seperti potret puasanya anak kampung yang tidak berani ngupil. Pengalaman yang membuat ia cekikikan saat mengingatnya kembali di usianya yang setengah tua. Kini,  sebagian dari pengalaman itu masih dijumpai, persis seperti saat ia kecil dulu.

Semakin merasa tua, kyai Adung makin merasakan serunya Ramadhan dan hari raya. Seru mengikuti wacana dan perdebatan soal hisab dan rukyat, soal keterlambatan membayar qodho puasa tahun lalu, soal takut sahur gara-gara sudah imsak, soal mimpi basah, soal tarawih sebelas apa dua puluh tiga,  soal makan minum karena lupa saat puasa sampai kepada kebingungan orang karena lebaran dua shift.

Entah, yang jelas kegembiraan lebaran tidak lagi dirasakan sebagai kegembiraan yang jujur khas anak anak. Barangkali karena kyai Adung sudah beranjak tua dan beruban sehingga saraf-saraf gembiranya sudah tidak lagi peka. Masa kecil yang berwarna saat Ramadhan dan lebaran dulu tinggal manis dikenang dan dituliskan.

Nyatanya, persoalan masa lalu seperti pengalaman puasa kecil Kyai Adung yang menggelikan itu tidak sepenuhnya habis sampai hari ini.  Kyai Adung masih saja menjumpai orang bertanya soal kentut dalam air batal apa tidak dan sebagainya.

Kyai Adung yang kocak, kolot, kampungan tapi cerdas itu harus pula melayani kehadiran persoalan klasik jadul tersebut selama Ramadhan berlalu. Dengan gayanya yang khas kocak itu,  kyai Adung memecahkan segala  teka-teki seputar kejadulan puasa dengan riang,  lucu, diselingi sifat jailnya yang kadang kelewatan tapi menghibur.

Lebaran tahun kemarin tidak bareng. Pihak-pihak yang berkepentingan menentukan 1 Syawwal tidak mencapai suara bulat berlebaran pada hari yang sama. Tipi yang meliput sidang itsbat membuka mata ummat bahwa ummat Islam Indonesia memang belum bisa keluar dari polemik kapan hilal dipastikan sebagai tanda 1 Syawwal. Dengan bantuan internet, kyai Adung jadi tahu, bahwa negara-negara di dunia juga tidak seragam lebaran 1432 H kemarin itu.

Kyai Adung sedikit terperangah, sesosok kyai di tipi menyampaikan ada kasus suami isteri yang bercerai gara-gara persoalan perbedaan lebaran. Rupanya begitu pentingnya kebersamaan lebaran sehingga mereka memilih lebih baik bercerai daripada lebaran dua shift. Kyai Adung mengira kasus itu mungkin ada mungkin tidak. Allahu a’lam.
Gara-gara lebaran dua shift itu pula, kyai Adung harus mendengarkan curhat Bhakti, Agus dan Setiawan.

Kyai Adung senang, meskipun mereka bertiga berlebaran tidak pada hari yang sama tetapi sikap toleran dan tenggang rasa ketiganya bisa menjadi contoh yang baik bagi ummat  dalam menyikapi perbedaan berhari raya.

Kocaknya, kyai Adung menjaili mereka di tengah diskusi kapan mereka memilih berlebaran. Saat itulah kyai Adung menyuguhkan mereka biskit palsu. Biskit palsu?
Tidak seperti aksi kocak dalam buku Rehat Bersama Kyai Kocak, kali ini kyai kampung itu banyak mengutip pesan Rasulullah shallallaahu alayhi wasallaam daripada berakrobat dengan logika. Bisa jadi karena persoalan yang muncul di hadapannya bukanlah persoalan logika atau akal-akalan. Meskipun begitu, ritme kocak kyai Adung yang logis sama sekali tidak hilang dan tetap menghibur.

Pengalaman kyai Adung selama menjelang Ramadhan, sebulan  menikmati bulan suci,  dan lebaran pada Selasa dan Rabu bagaikan novelet yang sayang jika dibiarkan hilang, terbang menguap diusir masa dan kesendirian.  Mengapa tidak direkam saja jejeknya di atas lembar lembar keabadian? Buku ini adalah kisahnya. Aksi kyai Adung, tokoh fiktif yang kocak setiap kali dihadapkan pada persoalan yang ditumpahkan padanya.

Selamat menikmati kekocakkannya sambil rehat, mesem-mesem dan cekikikan sendiri.

Depok, Maret 2012.

Penulis: Ust. Abdul Mutaqin
Editor: Moenk Sayeeda
Desain Cover: Veby Jenggoten

Untuk harga dan pemesanan, silakan hubungi penulis di email: abdul_mutaqin@yahoo.com


Pupular Posts:
  1. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  2. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  3. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  4. Jasa penyuntingan/editing naskah
  5. Jasa tata letak/layout naskah
  6. Jasa desain sampul/cover buku
  7. Jasa ilustrasi buku
  8. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  9. Cetak buku massal
  10. Jasa Penulisan Biografi  
 


3 komentar:

Anonim mengatakan...

pak abdul mutaqin guru sejarah kebudayaan islam aku loh

Anonim mengatakan...

YG SERI 3 LBH LUCU

Anonim mengatakan...

Hey vеry intereѕting blog!

Rеview my sіte ... Fiуatlагı Αltın ()