Kamis, 27 September 2012

M. Ridwan - Kearifan Ekologi Islam - Jasa Penerbitan Buku Indie Halaman Moeka P.



Buku yang ada dihadapan pembaca ini, hadir untuk deseminasi gagasan dan misi hijau Islam yang selama ini jarang menjadi konsern dan perhatian ilmuan Islam, buku ini hanya sekedar pengantar awal dalam perluasan gagasan mengenai nilai-nilai kearifan ekologi Islam (ekosofia) yang pernah digagas oleh segelintir ilmuan Islam yang consern tentang lingkungan hidup yang dalam hal ini tentu saja adalah Prof. Seyyed Hossen Nasr. Penulis menemukan percikan pemikirannya yang bernas sangat relevan dengan kondisi dan situasi ekologi di negera-negara muslim yang sangat jauh dari realitas ramah terhadap lingkungan hidup.

Penulis merasa terpanggil untuk menulis, menyajikan beberapa nilai etika ekologi dalam Islam seperti yang ditulis oleh Seyyed Hossen Nasr serta bagaimana langkah-langkah solutif yang ditawarkan. Setelah menyaksikan dan merasakan sendiri akibat bencana ekologis yang melanda di lingkungan kita khusus Indonesia, seperti banjir, pemanasan global semakin meranggas, cuaca ekstrem, pencemaran, dan lainnya. Sebenarnya buku ini telah ditulis sejak tahun 2007 yang lalu, namun upaya merampungkannya telah melewati banyak peristiwa dan tragedi ekologi yang tidak sempat terekam secara keseluruhan baik lokal, nasional, maupun maupun global.

Serangkaian peristiwa ekologis yang melanda sepuluh tahun terakhir ini, tentu sudah sangat cukup untuk menyadarkan kita bahwa betapa manusia telah menganiaya bumi dan seluruh mahkluk bahkan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan manusia itu sendiri. Maka dianggap perlu dilakukan upaya konkrit sebagai pengarusutamaan pendidikan ekologi atau pendidikan lingkungan hidup (green campaign) pada seluruh elemen masyarakat dengan berbagai macam cara, salah satu medianya adalah penerbitan buku, penerbitan jurnal, sebagai langkah awal untuk mengajak berkomunikasi, memberi informasi dan bersosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat, investor, pengusaha, pendidik, pemerintah, legislator (DPR), agamawan, rohaniawan, tokoh masyarakat, mahasiswa, pelajar, remaja, ibu rumah tangga dan masyarakat pada umumnya untuk bersama membangun paradigma dan pola hidup yang pro terhadap bumi dan mengembangkan kearifan ekologi dalam nilai-nilai agama.

Upaya bersosialisasi bisa memaksimalisasikan fungsi dan peran institusi keagamaan atau organisasi sosial kemasyarakatan yang ada, misalnya lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah,  Mesjid, Mushallah, Forum Keagamaan, Ikatan  Remaja Masjid, Karang Taruna, PKK, Majelis Taklim, Kelompok Kajian Keagamaan serta institusi pendidikan, lembaga pendidikan. Tentu saja hal tersebut akan lebih maksimal bila mendapat dukungan penuh dari pemerintah, baik pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota.

Penulis,
M. Ridwan

0 komentar: