Sabtu, 20 Juli 2013

NTT 100% Indonesia: Yohanes Apriano Fernandez

Berawal dari keprihatinan makin memburuknya citra masyarakat NTT di perantauan, khususnya Yogyakarta, pasca kasus penyerangan Lapas Cebongan. Ada keinginan untuk mempromosikan NTT, tidak hanya sejarah dan budayanya, namun juga kisah-kisah humanis yang menggambarkan bahwa kami juga manusia. Manusia yang mungkin pernah berbuat salah, pernah sulit beradaptasi dengan hiruk pikuk kota-kota besar, tetapi juga memiliki sense of humor dalam menatap kehidupan ini. Manusia selalu dinamis dan semua pengalaman itu pasti kita alami. Sayangnya, stereotip itu terlanjur melekat.

Adik saya yang merupakan seorang wartawan surat kabar di Yogyakarta selalu geram dengan stereotip tersebut dan tak henti-hentinya mengkritik opini yang sangat mendiskreditkan masyarakat NTT. Perjuangan berat bagi teman-teman dan saudaraku di Yogyakarta. Inilah motivasi utama bagi saya untuk mengajak siapapun yang membaca buku ini, khususnya yang bukan berasal dari NTT, agar melihat kami sama seperti yang lain.

Alasan lain yang juga cukup penting adalah ketidaktahuan sebagian orang tentang NTT. Semasa kuliah saya sering direpotkan oleh teman-teman yang bertanya tentang letak pulau Flores dalam peta Indonesia, apakah masyarakat Flores sudah mendapatkan fasilitas listrik? Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah-olah menggambarkan bahwa pulau Flores hanya terdiri dari kampung-kampung nan udik. Meski tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, tetapi saya selalu setia menjawabnya satu demi satu.

Kini hal tersebut masih saya temui, bukan hanya pulau Flores yang tidak diketahui tetapi juga Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur). Bahkan ada yang menyangka bahwa akronim dari NTT adalah Negara Timor Timur yang tidak lain adalah Timor Leste. Tak pelak saya disangka sebagai orang asing yang bekerja di Indonesia atau bahasa kerennya expatriat. Lucu juga jika disangka sebagai warga negara asing di negeri sendiri.

Pengalaman-pengalaman demikian sudah saya alami sejak menginjakkan kaki pertama kali di pulau Jawa ini. Sudah 12 (dua belas) tahun berlalu, namun kasus yang sama masih saya temui. Hal ini saya anggap lumrah karena kita selalu bertemu dengan orang yang berbeda dalam berbagai kesempatan. Pengalaman-pengalaman tersebut memotivasi saya untuk menulis berbagai artikel yang berkaitan dengan NTT, entah berupa kisah pribadi, keluarga, sahabat atau sebuah renungan pribadi.

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam kurun waktu 7 (tujuh) tahun terakhir dan sudah dipublikasikan lewat media online (blog dan facebook), namun disadari tidak semua orang menggunakan media online. Oleh karena itu, saya merasa perlu menerbitkannya dalam bentuk buku dengan pertimbangan praktis yaitu bisa dibaca oleh siapapun, kapanpun dan di manapun. Saya pun mulai menyunting tulisan-tulisan pribadi yang berkaitan dengan NTT dan berhasil mengumpulkan 18 (delapan belas) tulisan. Benang merah yang dapat ditarik dari tulisan-tulisan ini adalah masyarakat NTT sama seperti suku lainnya di Indonesia, kami 100% Indonesia.

Kumpulan tulisan–atau lebih tepatnya kisah–ini tidak merepresentasi fakta tentang NTT secara keseluruhan karena kebanyakan didasarkan pada pengalaman pribadi, apa yang saya ketahui dan yang saya baca. Terima kasih untuk keluarga, sahabat dan berbagai situasi yang telah memberikan pengalaman terbaik dalam hidup saya.

Proses penerbitan buku ini saya usahakan seorang diri, mulai dari proses penyuntingan, layout dan ide design cover. Sebagai seorang amatir, saya berharap para pembaca menyukai buku ini dan dapat mengetahui beberapa sisi tentang NTT. Kisah-kisah yang saya hadirkan merupakan kombinasi antara uraian seputar sosial-budaya, sejarah dan kisah-kisah ringan serta unik yang mungkin bisa membuat pembaca tertawa.
Tak kenal maka tak sayang, silahkan membaca buku ini dan semoga ada hal baru yang bisa didapatkan di sini. Silahkan sampaikan saran, kritik atau kesan anda di dawan_fernandez@yahoo.co.id. Salam


Bekasi, 25 Mei 2013

Yohanes Apriano Fernandez


Pupular Posts:
  1. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  2. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  3. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  4. Jasa penyuntingan/editing naskah
  5. Jasa tata letak/layout naskah
  6. Jasa desain sampul/cover buku
  7. Jasa ilustrasi buku
  8. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  9. Cetak buku massal

0 komentar: