Rabu, 19 November 2014

Pesawat Birumu di Langit Eropaku - Ivanasha & Ikmal

PUISI-PUISI YANG BERSAHAJA DAN JERNIH
Oleh: Jose Rizal Manua

Ketika ditawari membuat pengantar untuk antologi puisi “Pesawat Birumu di Langit Eropaku”, langsung saya penuhi. Karena antologi puisi ini cukup unik. Di tulis oleh 2 muda-mudi (A. Ikmal Febriansyah dan Ivanasha Adani Prasetianti) yang belum pernah ketemu. Persahabatan hanya mereka jalin melalui media sosial (twitter). Lewat media sosial inilah mereka berkolaborasi, membuat antologi puisi.

Ini sebuah peristiwa langka yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Untuk upaya serupa ini diperlukan kerendahan hati. Dan kerendahan hati itu telah ditunjukkan oleh Ikmal dan Ivanasha dengan membuat sebuah antologi “Pesawat Birumu di Langit Eropaku”. Ini sebuah upaya yang otentik, unik dan indah.

Dalam antologi “Pesawat Birumu di Langit Eropaku”, terhimpun 101 puisi; 50 puisi karya Ikmal dan 50 puisi karya Ivanasha, sedangkan 1 puisi karya kolaborasi dari mereka berdua. Sebuah puisi karya kolaborasi ini, yang paling menarik menurut saya. Meskipun keduanya melukiskan tentang jarak, tapi kepribadian yang otentik dan latar lingkungan yang berbeda, membuatnya menjadi suatu kepaduan yang tak terduga.
Ada baiknya puisi yang berjudul “Tiga Langkah” ini saya salin selengkapnya:

TIGA LANGKAH

Malam ini ruang merenggang di antara kita
Menegaskan jarak melebihi biasanya
Kerinduan seakan hanya butir percuma
Tanpamu ia hanya kalimat biasa

di sini
di ruang ini
aku telah melukiskan sebuah kota
di mana kita hanya berjarak tiga langkah
dan seorang yang bernama waktu sedang berdoa untuk mempertemukan kita

Tanpa kau ketahui
Kerinduan sedang menangisi kita sebelum pertemuan
Seberapapun sering doa dan imaji terpanjatkan
Masih ada langkah-langkah tersisa
Yang harus kita jalani tanpa bersisihan

dan perlu kau ketahui
keganjilan dalam jarak kita
adalah keganjilan waktu yang tak berhenti berdoa
di mana malamku adalah pagi untukmu
di mana pagiku adalah malam untukmu
dan kelak, keganjilan ini akan kita genapkan
dalam suatu pelukan saat pertemuan
pelukan yang menyatukan pagi dan malam
yang menyatukan matahari dan bulan
dan kita akan menikmati senja tanpa maut dan kehilangan


Indonesia-Jerman, Minggu, 9 Februari 2014.

Membaca puisi di atas, kita merasakan betapa jarak dan perbedaan waktu menyergap dua insan dalam “kerinduan”; “dan perlu kau ketahui/ keganjilan dalam jarak kita/ adalah keganjilan waktu yang tak berhenti berdoa/ di mana malamku adalah pagi untukmu…”
Kesan dan makna peristiwa tentang sketsa-sketsa kehidupan terlukis dalam antologi puisi ini. Yang diekspresikan bukan hanya kerinduan dan kegelisahan-kegelisahan si penyair, tetapi juga masalah-masalah moral dan sosial, akibat interaksi penyair dengan lingkungan atau masyarakat sekitar. Seperti puisi yang berjudul “penyemir”, “pelukis”, “pemulung”, dll.  Yang juga menarik dari antologi puisi karya Ikmal  dan Ivanasha ini, adalah tahun penciptaannya. Semua di tulis sepanjang tahun 2014.
Dari antologi puisi ini kita akan menemukan ungkapan yang bersahaja dan jernih dari penyairnya, karena diekspresikan dari kalbu yang jujur dan dari kasih sayang yang sejati. Coba kita simak dua puisi di bawah ini:

YANG ABADI
Karya: Ikmal

yang abadi di pohon tua ini
hanya nama kita
dikekalkannya huruf-huruf
yang kita sendiri lupa kapan menuliskannya


KEKAL
Karya: Ivanasha

kelak matahari akan pulang kepada garisnya
lalu malam menggantikannya
namun rindu tetap tak berubah
karena ia kekal saat kau tiada

Tanpa bermaksud mengindah-indahkan kata dan memanis-maniskan kalimat, kita bisa menangkap kekayaan imaji yang terkandung di dalamnya. Dari antologi ini kita tidak akan menemukan metafora yang muluk-muluk, selain kalimat-kalimat bersahaja yang jujur tanpa pretensi untuk “indah”. Namun ke”indah”an itu mencuat dengan sendirinya. Dalam antologi ini dapat juga kita rasakan kepekaan penyair dalam menghayati manusia, alam dan lingkungan.
Memang, secara keseluruhan, antologi puisi “Pesawat Birumu Di Langit Eropaku” ini merefleksikan kerinduan dua insan yang dipisahkan oleh dua benua. Tapi kerinduan itu justru memotivasi semangat keduanya untuk untuk menuntut ilmu, merangkum gemintang di antara matahari dan rembulan.
Semoga antologi puisi “Pesawat Birumu Di Langit Eropaku” ini menjadi pintu untuk melahirkan karya-karya yang lebih gemilang. Karya-karya lebih merangsang dan menantang. Karena perjalanan masih panjang membentang. Tetapi, “harapan” dan “kasih sayang”, dapat memberi semangat untuk meraih apa yang di angan. Sebagaimana yang terlukis dari dua puisi di bawah ini:



CAHAYA                                                          
Oleh : Ivanasha

kau ialah cahaya pada jalanku yang kelabu
menerangkan langkahku untuk tetap melaju
menghadapi setiap rintangan

dan semua angan-angan

cukupkah setiap hari ku berdoa
menengadahkan tangan pada Yang Kuasa
untuk selalu membiarkanmu menjadi cahaya
pada jalanku yang sedia beribu bahaya

dan selalu aku berharap
bahwa kau cahayaku tetap
menghiasi jiwa yang hampa
dan berkabut asap luka

di sini sayang

temani aku di bawah bintang

terus menjadi cahaya di antara remang
jadikan jejak ini benderang

dan,

terimakasih sayang
keberadaanmu di sini

ialah jawaban doaku pada Illahi

Greifswald, 2014.


MUSIM HUJAN
Oleh : Ikmal

pada musim hujan

sajak ini adalah nyala api

kau tak perlu lagi menggunakan payung jika ingin pergi
sebab sajak ini

kukirim untukmu, sebagai pengganti matahari


Jambi, 2014.


Buku ini bisa didapatkan melalui email: rusdi.canting@gmail.com


Popular Posts:
  1. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  2. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  3. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  4. Jasa penyuntingan/editing naskah
  5. Jasa tata letak/layout naskah
  6. Jasa desain sampul/cover buku
  7. Jasa ilustrasi buku
  8. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  9. Cetak buku massal
  10. Jasa Penulisan Biografi

0 komentar: