Rabu, 18 November 2015

Pelangi Cinta Negeri: Rumpies The Club

Mengungkapkan rasa cinta kepada negeri sendiri, Ibu Pertiwi,
bisa dengan apa saja. Menaklukkan puncak gunung tertinggi,
menuruni lembah terdalam, dan mengarungi samudera luas
dengan kibaran Sang Merah Putih adalah kebanggaan anak
negeri. Tulisan, foto dan gambar bergerak merupakan wadah
untuk mengungkap rasa cinta itu.

Tetapi, Rumpies mengungkapkan rasa cintanya kepada negeri
dengan cara yang tergolong unik, yaitu dengan puisi. Dalam
puisi, keberanian dan kepahlawanan bisa disampaikan dengan
halus. Sebaliknya, ketidakadilan juga bisa disuarakan dengan
keras dan lantang lewat puisi. Itulah yang dilakukan anggota
komunitas Rumpies dengan puisi-puisi mereka.
(Pepih Nugraha – COO Kompasiana)

"Di jaman pembangunan ini tuan hidup kembali dan bara
kagum menjadi api", selarik puisi karya penyair CH. Anwar
yang berjudul, " Diponegoro" tersebut di atas mengisyaratkan
tentang kesemangatan untuk mengisi kemerdekaan dengan
sesuatu yang positif dan kreatif.

Lomba cipta puisi kemerdekaan yang diadakan oleh
komunitas RTC di sosial media dalam rangka menyambut
dan menyongsong Hari Kemerdekaan Republik Indonesia
ke-70, bisa menjadi penanda bangkitnya kembali ideologi
nasionalisme dalam ranah puisi.

Penyair Umbu Landu Paranggi pernah mengatakan dalam satu
wawancara dengan radio Remaco: Seorang penyair itu harus
punya ideologi.

Semoga event puisi Merah Putih yang diprakarsai oleh
komunitas Rumpies The Club ini menghasilkan karya puisi
yang bukan hanya sekedar membunyikan estetika, dan etika,
tapi juga menyuarakan spirit kebangsaan dan nilai-nilai
ketuhanan.
(Giyanto Subagio – Pekerja Seni dan Aktifis Sosial)

Menulis puisi memang bisa mengambil tema apapun.
Karena dengan puisi orang bisa menyampaikan persoalan
dengan kalimat pendek, tetapi memiliki makna yang kental.
Kali ini kita diberi puisi, yang temanya luas, dan menyangkut
sikap kebangsaan, yakni nasionalisme.

Melalui puisi, satu komunitas yang menamakan diri Rumpies
The Club mengajak menulis puisi dengan tema nasionalisme
yang mereka tandai melalui kalimat ‘merah putih’. Karena
kalimat ini ditaruh pada konteks Kemerdekaan Indonesia,
yang kini beruisia 70 tahun, maka kita kenali sebagai puisi
nasionalisme. Tema seperti yang diajukan oleh Rumpies The
Club ini, pada masa sastrawan angkatan 45 telah dilakukan,
Chairil Anwar hanyalah salah satu dari sejumlah sastrawan
lainnya, termasuk oleh para pelukis angkatan Sudjojono,
Affandi dan lainnya.

Pada era yang semakin terbuka dan ruang-ruang tidak
lagi memiliki batasan yang tegas, apa yang disebut sebagai
nasionalisme seringkali menjadi bahan pertanyaan. Dan
puisi nasionalisme yang kita baca kali ini, tidak berangkat
dari semangat 45 seperti masa lalu, melainkan memiliki
pemahaman lain sehingga nasionalisme di era digital
memiliki makna yang berbeda dengan nasionalisme 45.
Maka, sastra digital, sebut saja begitu, dari Rumpies The
Club ini, saya kira mengajak generasi sekarang memahami
nasionalisme secara lain melalui karya sastra dalam hal ini
puisi.

(Ons Untoro – Penyair dan Pegiat Budaya)



Popular Posts:
  1. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  2. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  3. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  4. Jasa penyuntingan/editing naskah
  5. Jasa tata letak/layout naskah
  6. Jasa desain sampul/cover buku
  7. Jasa ilustrasi buku
  8. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  9. Cetak buku massal
  10. Jasa Penulisan Biografi