Minggu, 17 Juli 2016

Biografi Perjuangan: Pangeran Ario Senopati Awang Long: DINSOS KALTIM

“Hanya bangsa yang menghargai jasa-jasa
pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang
besar”, demikian kata Soekarno. Artinya, dengan
mengetahui dan meneladani epos para pahlawan,
ada nilai-nilai luhur yang dapat dipetik, dengan
begitu jiwa rela berkorban dan cinta Tanah Air
dapat tertanam dalam benak setiap insan bangsa
Indonesia, utamanya generasi muda.1
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan
yang maha esa atas segala rahmat dan inayahnya
kepada kami sehingga dapat merampungkan buku
Biografi Perjuangan Pangeran Ario Senopati Awang
Long ini.
Buku Biografi Perjuangan Pangeran Ario
Senopati Awang Long ini adalah merupakan hasil
kerja keras dari penelitian penulis, baik yang
bersumber dari buku-buku kajian terdahulu
yang ditulis oleh sejarawan lokal Kalimantan
Timur, penulis nasional dan penulis-penulis asing
maupun penuturan ingatan kolektif dari para sepuh
kesultanan, masyarakat sejarawan Kutai sampai
kepada para keturunan Pangeran Ario Senopati
Awang Long yang tentunya mereka-mereka yang
memahami riwayat perjuangan almarhum.


Berbicara tentang sosok Pangeran Ario
Senopati Awang Long berarti berbicara tentang
sebuah momentum sejarah. Sebuah sejarah,
apapun namanya, apapun momentumnya,
siapapun pelakunya, sebesar apapun kualitas
konvensionalnya, dapat dipastikan mempunyai
“Harga”. “Harga” yang terkandung didalam sebuah
sejarah dapat dipastikan sangatlah mempunyai
“Nilai”, “Nilai “ yang merupakan residu dari
keseluruhan sejarah itu sendiri. “Nilai” yang tidak
dapat disangsikan dapat menjadi “Nilai-Nilai” baru
dan lebih berharga ketika generasi setelahnya mau
belajar banyak dari sejarah tersebut. “Nilai” yang
boleh jadi adalah warisan dari para pahlawan yang
diperuntukkan demi kebesaran dan kemajuan
generasi penerusnya. Karena pada dasarnya segala
sesuatu yang mempunyai “Harga” dan “Nilai“ adalah
sebuah pelajaran yang tidak dapat dibatasi takaran
kwalitasnya secara kwantitatif.
Untuk menanamkan segala “Harga’ dan
“Nilai” dalam suatu sejarah, suatu ikon sejarah
tersebut sangat dibutuhkan untuk tampil pada
masa generasi penerusnya yang akan dapat terus
tertangkap oleh segenap indra generasi penerus
tersebut tanpa pernah hilang dan lenyap ditelan oleh
waktu dan ruang yang senantiasa terus bergerak.
Ikon yang diperlukan adalah sosok pelaku sejarah
tersebut, momentum sejarahnya atau instrumen
yang terdapat pada momentum sejarah tersebut.

Pada akhirnya, spirit atau ruh dari sejarah tersebut
akan melebur dalam kehidupan sosial para generasi
penerus yang merupakan pewaris sejarah dari para
pendahulunya.2
Bagaimana dahsyatnya spirit perjuangan yang
melekat di hati para pejuang bangsa ini. Nyawa dan
harta benda tak ada harganya saat itu, perjuangan
melawan penindasan imperialisme dan kolonialisme
barat yang ingin menguasai negeri ini terus
bergemuruh dihati para pejuang-pejuang negeri
ini. Laki-laki, perempuan tak ada bedanya, semua
pantas dan ingin berdiri di depan untuk mengangkat
senjata mengusir penjajah.
Tiada pilihan lain kecuali melawan, hidup
atau mati sekalipun, itu sama saja demi sebuah
perjuangan. Kalimat ini bukan isapan jempol
belaka, seperti yang terjadi pada diri Pangeran Ario
Senopati Awang Long, dengan dihujani meriam dan
mortir, Pangeran Ario Senopati Awang Long dan
pasukannya telah perjuangan mengangkat senjata
di bumi Kutai. Ketika t’Hooft membumi hanguskan
Tenggarong, almarhum meladeni gempuran
pasukan Belanda dan bertahan di balik tumpukan
kayu ulin yang besar-besar yang sengaja dibuat
sebagai benteng pertahanan di pinggir sungai
dekat sungai kecil (Tenggarong kecil) menuju Istana
kesultanan Kutai, sampai titik darah penghabisan.
2 Merah Putih berbalut Sutra Mandar, Safardy Bora & Syawal
Opung, Hal.1

Walaupun benteng yang setinggi empat meter yang
baru terbangun sejak kepindahan kota kesultanan
dari Pemarangan ke Tenggarong rubuh dan luluh
lantah. Pangeran Ario Senopati Awang Long dan
pasukannya tetap bertahan di sana sampai akhirnya
tertimpah badan tembok yang rubuh akibat dihujani
serangan pasukan Belanda yang membuatnya
menghembuskan napasnya yang terakhir dan gugur
sebagai kesuma bangsa.
Realita, dinamika dan fakta sejarah yang telah
menjadi catatan kepahlawanan Pangeran Ario
Senopati Awang Long merupakan Fenomena dari
sebuah substansi yang teresidu dari perjuangannya,
Fenomenanya adalah betapa suatu semangat yang
lahir dari suatu budaya dapat begitu besarnya
menghasilkan sebuah spirit nasionalisme yang tidak
dapat dirubuhkan bahkan oleh gempuran moncong
meriam dan bedil sekalipun.
Sebuah alasan klise mungkin dapat dilemparkan,
yaitu seorang Pangeran Ario Senopati Awang Long
dan sebuah komunitas masyarakat di Kutai telah
memberi contoh yang sangat berharga untuk
menepis segala alasan di atas. Tidak ada suatu
alasan apapun untuk tidak terbentuknya semangat
Nasionalisme, dengan bungkusan bernama budaya,
suatu spirit Nasionalisme lahir dengan gegap
gempitanya.
Untuk itu sangatlah layak sebuah ikon yang
berasal dari Kutai Kartanegara dihadirkan sebagai

ikon Nasional dengan berdasarkan segala pelajaran
di atas. Untuk itu pula Pangeran Ario Senopati
Awang Long adalah merupakan ikon yang beralasan,
karena sebagai seorang Panglima Sepangan Raja
Pangeran Ario Senopati Awang Long merupakan
representasi dari masyarakat Kutai Kartanegara
secara keseluruhan.
Pangeran Ario Senopati Awang Long telah
memberi bukti nyata kepada bangsa ini, bahwa
dengan semangat yang lahir dari konsep piramida
budaya dapat menghasilkan spirit nasionalisme
demi mempertahankan kehormatan bangsa ini.

Samarinda, 10 April 2016
Penulis


Info lainnya:
  1. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  2. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  3. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  4. Jasa penyuntingan/editing naskah
  5. Jasa tata letak/layout naskah
  6. Jasa desain sampul/cover buku
  7. Jasa ilustrasi buku
  8. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  9. Cetak buku massal
  10. Jasa Penulisan Biografi 

0 komentar: