Jumat, 26 Mei 2017

Perjuangan Sultan Aji M. Idris - Safardy Bora dkk

Dalam sejarah panjang Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, nama Sultan Aji Muhammad Idris memiliki tempat tersendiri. Nama beliau melekat dalam sanubari pada banyak orang, tidak saja di Kalimantan Timur, tetapi juga di Sulawesi Selatan. Perjuangannya telah menjadi satu model baru dalam melihat bagaimana kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara di masa lalu, membangun kerjasama dalam mengusir penjajah. Sultan Aji Muhammad Idris dengan kesadaran penuh, meninggalkan tahtanya demi membantu mertuanya, La Maddukelleng yang ketika itu diperhadapkan pada situasi yang sangat sulit, membantu membebaskan Kerajaan Wajo dalam cengkeraman VOC.
La Maddukelleng menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya tidak cukup memadai untuk membebaskan Kerajaan Wajo, tidak saja dari gangguan dan cengkeraman Kerajaan Bone, tetapi juga dari penguasa VOC yang menggunakan Perjanjian Bungaya 1667 sebagai alat legitimasi untuk menjajah Kerajaan Wajo. Situasi itu disadari betul oleh Sultan Aji Muhammad Idris, oleh karena itu  tanpa diminta ,telah menawarkan diri untuk turut membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh mertuanya itu.
Ada banyak kesulitan yang ditemui dalam menulis sejarah perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris. Minimnya sumber-sumber primer, merupakan persoalan utama dalam mencoba menggali lebih dalam tetang peran yang dimainkan oleh Sultan Aji Muhammad Idris. Pencarian sumber di Arsip Nasional di Jakarta, juga kurang mendapatkan hasil yang sangat diharapkan. Sepertinya arsip VOC lebih fokus pada hal-hal yang langsung terkait dengan VOC.
 Persoalan kedua adalah naskah lokal yaitu lontarak, sepertinya juga tidak banyak memberi informasi tentang tokoh pejuang ini. Meskipun demikian, lontarak yang ada di Sulawesi Selatan sedikit banyak membantu dalam menjelaskan beberapa hal, terutama dalam melihat siapakah sebenarnya Sultan Aji Muhammad Idris itu. Akan tetapi, bagaimana perjuangannya di Sulawesi Selatan, juga hanya sedikit yang dapat diketahui. Beberapa lontarak yang digunakan hanya sedikit yang menyinggung mengenai keberadaan pasukan dari Kalimantan Timur ini.
Naskah lokal yang ada di Kalimantan Timur misalnya, juga mengandung banyak kendala untuk digunakan sebagai sumber dalam penulisan tokoh ini.Salasilah Kutai yang oleh banyak penulis digunakan untuk mengetahui masa lalu Kerajaan Kutai, tidak terlalu banyak yang diharapkan. Buku ini dalam banyak hal isinya bertentangan dengan catatan yang ada dalam lontarak.
Buku Salasilah Kutai adalah salah satu  model penulisan sejarah tradisional. Peran para dewa dalam mengatur kehidupan manusia sangat besar. Penciptaan Kerajaan Kutai misalnya, juga adalah campur tangan para dewa. Tulisan semacam ini tentu memiliki kelemahan untuk dapat digunakan sebagai rujukan dalam penulisan. Hal itu memang diakui sendiri oleh penyusun buku itu, bahwa Salasilah Kutai mengandung begitu banyak mitos dan juga legenda. Hal ini tentu saja bertentangan dengan penulisan sejarah modern yang menempatkan data dan fakta sebagai basis penulisannya.
Ketiadaan angka tahun kejadian, menjadi kesulitan lain dalam menggunakan tulisan sejarah tradisional sebagai sumber sejarah. Hal inilah yang kemudian menjadikan tahun pemerintahan Sultan Aji Muhammad Idris bertentangan antara satu sumber dengan sumber lainnya. Kesalahan dalam menuliskan angka tahun telah berdampak luas dalam melihat peristiwa atau kejadian lainnya.
Terlepas dari itu semua, mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah daftar panjang literatur tentang Sultan Aji Muhammad Idris khususnya dan sejarah Kalimantan Timur pada umumnya.


Desember 2016
Penulis


Popular Posts:
  1. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  2. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  3. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  4. Jasa penyuntingan/editing naskah
  5. Jasa tata letak/layout naskah
  6. Jasa desain sampul/cover buku
  7. Jasa ilustrasi buku
  8. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  9. Cetak buku massal

0 komentar: