Rabu, 31 Januari 2018

Aceh (tidak) Hitam Putih: Husaini Yusuf, Dkk

KETIKA pertama sekali diberikan draf buku ini oleh Ketua IKAMAPA, Husaini Yusuf, ada rasa bangga di hati. Saya tidak mampu menahan haru menyaksikan adik-adik yang sedang menempuh pendidikan tingkat pascasarjana -magister dan doktor -di Institut Pertanian Bogor melahirkan karya dan menyumbang buah pikir untuk perbaikan Aceh di masa depan.

Membaca halaman demi halaman buku Aceh (tidak) Hitam Putih, membawa saya kepada sebuah gambaran luas tentang kondisi Aceh saat ini. Pasca-tsunami dan konflik yang melanda Aceh tahun 2004 silam, tentu pembangunan dan kesejahteraan menjadi cita-cita bersama. Gempa berkekuatan 9.3 SR ditambah tsunami yang menurut para ahli termasuk gelombang pasang terbesar abad ini telah memporak-porandakan infrastruktur tatanan yang selama ini dianggap mapan oleh rakyat Aceh. Tsunami dan gempa serta konflik yang melanda hingga 30 tahun menjadi titik kembali rakyat Aceh untuk menggapai cita-cita menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Namun kenyatannya untuk bangkit dari keterpurukan, memperbaiki kualitas ekonomi, serta meningkatkan taraf hidup rakyat Aceh tidak mudah dilakukan. Setidaknya hingga saat ini sudah dua rezim pemerintahan berganti. Akan tetapi, agenda menyejahterakan rakyat Aceh masih jauh panggang dari api. Sedangkan jika kita ingin melihat lebih jernih, Aceh adalah salah satu provinsi dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tertinggi di Indonesia. APBD Aceh berasal dari Pendapatan Asli Daerah ditambah bantuan dana Otonomi Khusus dari APBN sebagai amanah dari Undang-Undang Pemerintah Aceh. Besarnya anggaran daerah berbanding terbalik dengan kemiskinan di Aceh. Fakta membuktikan, sampai tahun 2016 Aceh menduduki provinsi termiskin nomor 7 se-Indonesia. Untuk wilayah Sumatera, Aceh berada di posisi nomor dua paling buncit untuk tingkat kemiskinan.

Setali dua uang dengan kemiskinan, tingkat pengangguran di Aceh juga sangat memprihatinkan. Hingga tahun 2015, setidaknya ada 270 ribu pengangguran di Aceh. Angka ini didominasi oleh anak-anak muda, lulusan SMA bahkan sarjana. Kita patut khawatir angka ini terus bertambah. Dua kondisi ini -kemisminan dan pengangguran -patut membuat kita mengurut dada. Belum lagi jika kita telusuri masalah lainnya yang tak kunjung tuntas diselesaikan, seperti pengelolaan sumber daya alam Aceh. Lantas, siapa yang patut disalahkan? Pemerintah Aceh yang tidak punya konsep matang untuk peningkatan kesejahteraan rakyat? Atau justru rakyat Aceh sendiri yang tidak ingin berubah jadi sejahtera?

Jawaban atas dua soalan itu dapat kita telusuri dalam buku ini. Tidak hanya dua persoalan tersebut, berbagai hal yang menyangkut Aceh dapat ditemukan jawabannya. Saat membaca halaman pertama buku ini saja, membuat saya tidak mampu menahan diri untuk terus membaca dan menuntaskan buku ini guna mengobati rasa gelisah dan penasaran saya terhadap kondisi Aceh saat ini.

Ini adalah karya besar. Patut untuk dibaca oleh berbagai pihak, baik pemerintah Aceh, rakyat Aceh, atau orang-orang non-Aceh namun peduli terhadap Aceh. Buku ini berisi kritikan sekaligus jalan keluar khas akademisi. Saya mengapresiasi buku Aceh (tidak) Hitam Putih ini, apa lagi
ini adalah karya perdana adik-adik IKAMAPA Bogor. Karya ini mengindikasikan lahirnya generasi intelektual Aceh yang telah lama senyap.

Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada Husaini Yusuf dan kawan-kawan atas lahirnya karya ini. Semoga gagasan yang ada dalam buku ini membuat kita semua tersadar tentang agenda besar yang masih menjadi tanggung jawab kita semua sebagai rakyat Aceh. Jangan sampai nanti kita dituntut oleh anak-cucu kita karena kehancuran nanggroe meutuah.

Bogor, Agustus 2017
Fauzi Mustafa, SH.
Ketua Taman Iskandar Muda Cabang Bogor


Popular Posts:
  1. Cetak buku tahunan, company profile, buku kenangan, buku anak full colour, dll dengan harga hemat.
  2. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  3. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  4. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  5. Jasa penyuntingan/editing naskah
  6. Jasa tata letak/layout naskah
  7. Jasa desain sampul/cover buku
  8. Jasa ilustrasi buku
  9. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  10. Cetak buku massal

0 komentar: