Minggu, 21 Januari 2018

Buku Sejarah: Pemikiran Hoesin Bafagieh by Nabiel A.Karim Hayaze’

Sejarah telah membuktikan bahwa jejak perjuangan bangsa
Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Islam. Karena
Indonesia dan Islam adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Islamlah
yang menjadi pegas yang mendorong bangsa Indonesia untuk
bergerak maju untuk berjuang mengusir penjajah dan meraih
kemerdekaan. Dengan pekikan “Allahu Akbar” bangsa Indonesia
mampu melepaskan diri dari belenggu penjajah dan menjadi
bangsa yang merdeka.

Dan di dalam perjuangan tersebut, terdapat barisan pejuang
Islam berdarah Arab yang mencintai negeri ini sepenuh hati,
meneteskan darahnya demi mencapai kemerdekaan, seperti yang
disebutkan oleh Prof. Wertheim dalam Indonesian Society in Transition
bahwa “ulama-ulama Arab merupakan the fiercest Company’s enemies...”
atau “ulama-ulama Arab merupakan lawan penjajah kolonial yang
paling gigih”, diantaranya ada Imam Bonjol (Muhammad Shahab),
Raden Saleh (Saleh bin Yahya) dan masih banyak lagi yang tidak
bisa disebutkan satu persatu.

Nafas semangat perjuangan itu tidak pernah berhenti dalam
satu momen dan titik tertentu, terus berkobar ketika bangsa ini
membutuhkannya, hingga dilanjutkan oleh sekelompok pemuda
Keturunan Arab pada tahun 1934 di Semarang dengan melakukan
Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang kemudian disebut dan
diperingati sebagai hari Kesadaran Bangsa Arab, hingga akhirnya
menjadi Partai Arab Indonesia (PAI) yang dimotori oleh AR.
Baswedan, yang dengan tegar dan lantang mengatakan bahwa
tanah air Keturunan Arab adalah Indonesia. Titik! Tidak peduli
Belanda mengatakan apa dan tidak peduli siapapun mengatakan
yang sebaliknya. Dan sebagai konsekuensinya, Keturunan Arab
harus memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa
Indonesia.

Sumpah tersebut merupakan sebuah langkah yang revolusioner,
bukan hanya bagi keturunan Arab, tetapi bagi seluruh bangsa
Indonesia seluruhnya. Hingga kemudian Ki Hajar Dewantara
menyebutkan arti sumpah tersebut dalam sambutannya atas Peringatan
Hari Kesadaran Bangsa Indonesia keturunan Arab yang ke-
20 di Solo : “...keikhlasan saudara-saudara keturunan Arab tadi tidak saja
menguntungkan diri mereka sendiri, namun menguntungkan negara kita
pula, sebagai negara yang Modern dan berdasarkan Pancasila”.
Sayangnya penulisan sejarah dan studi mengenai peran Keturunan
Arab, termasuk di dalamnya peran perjuangan PAI dalam
pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia masih sangat kering
dan banyak tidak diketahui oleh masyarakat umum. Perjuangan
mereka tidak pernah tertulis di buku sejarah bangsa, tokohtokohnya
tidak dikenal oleh generasi muda. Alhamdulillah sudah
ada beberapa buku yang menulis sang tokoh pendirinya, yaitu AR.
Baswedan. Tetapi dan sayangnya, tokoh-tokoh keturunan Arab
lainnya yang terjun aktif dalam perjuangannya di dalam PAI bersama
AR. Baswedan, sampai detik ini, masih banyak yang “terkubur”
dalam sejarah dan tidak dikenal oleh khalayak umum. Baswedan
dalam salah satu wawancaranya mengatakan bahwa :
“Saya anggap usaha ini berhasil (usaha PAI, ed) bukan karena diri
saya sendiri, tetapi betul-betul karena dibantu oleh banyak kawan-kawan
yang tidak bisa saya hitung satu persatu karena bisa melupakan yang lain,
barangkali akan saya sebut satu persatu insya Allah “1
1 ANRI, Proyek Sejarah Lisan Arsip Nasional Republik Indonesia, Pertemuan Ke-13
tanggal 22 Agustus 1975.

Dan salah satu kawan yang dimaksudkan adalah Hoesin
Bafagieh, seorang pendukung loyal dan sahabat seperjuangan
AR. Baswedan dalam PAI, tokoh pemersatu keturunan Arab,
seorang tokoh pers nasional dengan majalah terbitannya, Aliran
Baroe yang aktif menyebarkan faham PAI ke seluruh pelosok
Indonesia, mengguncangkan masyarakat kaum Keturunan Arab
Indonesia untuk bangun dari tidurnya, membangkitkan kesadaran
berbangsa Indonesia diantara keturunan Arab. Seorang tokoh
pendorong emansipasi awal wanita dikalangan keturunan Arab
serta penganjur pembauran total golongan keturunan Arab di
masyarakat Indonesia. Seorang reformis Islam dan nasionalis sejati.
Untuk mengisi ruang sejarah yang kosong tersebut, maka
disusunlah buku ini yang berisikan kumpulan tulisan Hoesin
Bafagieh, yang merupakan bagian dari usaha penyusun untuk
menolak lupa atas sejarah bangsa, mengenalkan kembali sosok
Hoesin Bafagieh ke dalam kehidupan saat ini dan memberikan
tempat yang selayaknya bagi Hoesin Bafagieh dalam catatan sejarah
bangsa Indonesia. Dan pada hakikatnya, setiap fakta dan peristiwa
yang terjadi dalam kehidupan manusia dan masyarakat, tidak akan
pernah menjadi sebuah “sejarah”, kecuali kita mau menulisnya.
Penyusun sangat yakin bahwa sejarah pergerakan keturunan Arab
termasuk dengan PAI-nya bukanlah hanya sejarah milik keturunan
Arab, melainkan sebuah bagian dari sejarah pembentukan bangsa
Indonesia (nation building) dan milik bangsa Indonesia seluruhnya.

Sehingga hal itu sangatlah layak dan penting untuk dituliskan.
Buku ini menggunakan sumber-sumber primer yang memuat
tulisan-tulisan dari Hoesin Bafagieh yang tersebar di beberapa
majalah yang antara lain:

  1. INSAF : Terbitan berkala bulanan dari Januari 1937 sampaiAgustus 1941
  2. Aliran Baroe : Terbitan berkala bulanan yang terbit dari bulanAgustus 1938 sampai dengan November 1941
  3. Buku-buku karya Hoesin Bafagieh


Untuk memudahkan pembaca di dalam memahami karya
karya tulisan tersebut, penyusun telah mengubah ejaan lama yang
ada ke dalam bentuk Ejaan yang Disempurnakan (EYD), tanpa
mengubah susunan kata dan kalimat, sehingga tidak menghilangkan
suasana dan perasaan ketika tulisan tersebut ditulis. Penyusun
juga memberikan “footnote” untuk beberapa istilah, nama orang
dan nama organisasi yang disebutkan di dalam tulisan tersebut,
dengan harapan bisa membantu pembaca untuk mendapatkan
konteks yang lebih lengkap dan lebih jelas. Sedangkan untuk nama
orang dan juga judul majalah, buku atau nama organisasi, ejaan
pertamanya tetap dipertahankan sebagai hak dari pribadi orang
dan organisasi tersebut.

Tulisan-tulisan Hoesin Bafagieh sangatlah beragam dari
mulai tulisan yang berkenaan dengan sepak terjang perjuangan
dan idealisme PAI, yang mengangkat tentang isu emansipasi
wanita, tulisan tentang agama (Islam), kritik sosial masyarakat,
yang berhubungan dengan Nasionalisme atau kebangsaan, hingga
tulisan berupa tonil atau cerita. Dan sekali lagi untuk memudahkan
pembaca di dalam membaca kumpulan tulisan tersebut, penyusun
telah membagi dalam beberapa bagian, yaitu :
1. Seputar PAI
2. Emansipasi Wanita
3. Kritik Sosial
4. Tokoh Bangsa
5. Agama
6. Di mata Sahabatnya
7. Risalah Soal Kekudung
8. Cerita Pendek dan Tonil

Penyusun yakin bahwa masih banyak tulisan-tulisan Hoesin
Bafagieh yang tercecer dan terlewat dari pencarian dan pengamatan
penyusun, hal itu mungkin sebagian merupakan akibat dari
“kebiasaan” kita selama ini yang kurang peduli untuk merawat
dan menyimpan dokumen sejarah. Ini yang selalu menjadi kendala
bagi kita semua di dalam usaha untuk “melawan lupa” di dalam
penulisan sejarah. Selain memang sudah menjadi tabiat dari beberapa
tokoh keturunan Arab yang terlibat langsung di dalam perjuangan
bangsa, sebagai seorang muslim, mereka menolak untuk
bercerita tentang dirinya sendiri ketika diwawancara atau direkam
atau pun menuliskan hasil perjuangan mereka sendiri karena mereka
tidak ingin menjadi orang yang riya’. Mereka berjuang dengan
ikhlas karena mereka yakin bahwa apa yang mereka telah lakukan
adalah sebuah kewajiban sebagai seorang anak bangsa dan sebagai
seorang muslim, tanpa mengharap imbalan apapun.

Dengan membaca tulisan-tulisan tersebut diharapkan kita
semua, generasi penerus bangsa bisa belajar dari pengalaman
sejarah tersebut dan kemudian merefleksikan ke dalam pengabdian
nyata kepada bangsa dan agama. Sehingga kita tidak menjadi
sebuah generasi yang amnesia, yang lupa akan masa lalunya, yang
berjalan menuju ke masa depan tanpa ingatan, tanpa arah tujuan
yang jelas. Membaca itu membangkitkan, insya Allah dengan
membaca buku ini, bisa membangkitkan semangat yang sama atau
bahkan lebih di dalam perjuangan kita semua, demi bangsa, negara
dan agama.

Penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada Ammi
Syakib Husin Bafagih (putra dari alm. Hoesin Bafagieh), yang telah
memberikan dukungan sepenuhnya atas rencana penerbitan buku
ini. Di samping kesibukannya; beliau dengan sabar telah menyempatkan
waktu untuk bertemu dengan penyusun, memberikan
informasi yang diperlukan dan memberikan dukungan sepenuhnya
untuk penerbitan buku ini. Dibutuhkan lebih banyak pribadi
seperti Ammi Syakib Bafagih yang peduli pada penulisan sejarah
perjalanan dan perjuangan bangsa. Sebuah kepedulian yang tidak
hanya sebatas kata-kata tetapi dibuktikan dengan amal perbuatan
riil. Semoga menjadi sebuah amal ibadah yang diridhoi dan diterima
oleh Allah SWT.

Juga ucapan terima kasih kepada sahabat penyusun Dr. Huub
de Jonge; Dr. Zeffry Alkatiri serta Ustadz Hasan Bahanan yang
telah berkenan memberikan pengantar serta masukan-masukan
untuk buku ini.

Terakhir kepada Akhinal Aziz; Abdullah Ali Al-Jufri (Dolli),
seorang sahabat dan teman diskusi yang selama ini bersama-sama
“membangun mimpi”, tanpa dorongannya buku ini tidak akan
pernah selesai.
Kepada mereka semua : Jazakumullah khoyron jaza’.


Penyusun
Nabiel A.Karim Hayaze’


Popular Posts:
  1. Cetak buku tahunan, company profile, buku kenangan, buku anak full colour, dll dengan harga hemat.
  2. Penerbitan buku indie/menerbitan buku sendiri dengan memakai jasa Self Publishing Service Halaman Moeka Publishing: Murah dan Mudah!
  3. Menerbitkan buku indie dengan cepat, bahkan ekspres!
  4. Menerbitkan buku indie dengan bebas biaya pracetak (layout, desain cover, ISBN)
  5. Jasa penyuntingan/editing naskah
  6. Jasa tata letak/layout naskah
  7. Jasa desain sampul/cover buku
  8. Jasa ilustrasi buku
  9. Cetak buku satuan/print on demand (POD)
  10. Cetak buku massal

0 komentar: