Minggu, 25 Februari 2018

Afen Sena - Pergumulan dan Kerumunan Kata Di Antara Titik dan Koma

Kita sudah bertahun-tahun menumpuk pengetahuan, tapi nyatanya perubahan hidup tidak tergantung pada berapa banyak yang sudah kita tahu melainkan berapa banyak yang sudah kita praktekkan dalam keseharian.
Seperti kita yang hanya pandai berbicara namun awam dalam penerapan, tapi lucunya berharap bahwa urusan yang kadung semrawut tahunan bisa berubah dalam satu kali langkah. Cukup mie saja yang instan, nasib tidak perlu ikut-ikutan.
Yang lebih fatal, jangan sampai kita sibuk memperbaiki orang lain sehingga kita tidak punya waktu untuk memperbaiki diri sendiri. Kalau cuma bicara atau nulis saja, semua orang juga bisa. Ada yang motivasi bicaranya karena politik yang butuh retorika nan apik.
Ada yang bicara karena mau mengubah dunia. Mulia sekali kedengarannya. Tapi, dewasa ini lebih banyak orang yang terpesona oleh tindakan, mereka terlanjur tahu bahwa ngomong doang mah gampang.
Ini seperti mempercayai omongan dukun pengganda uang yang hidupnya sendiri pas-pasan. Ini bagaikan pejabat yang sedang berdiskusi tentang betapa sulitnya kehidupan para petani di hotel mewah dengan sajian lasagna dan spaghetti. Yora nyambung Jon! Lak nang basa Inggris iku diarani “Doesn’t make any sense.” Kita sudah terlalu banyak tahu, tapi ya cuma sekadar tahu.
Jika diri Anda bukan motivator terkenal, jangan berharap bekal “tahu” saja bisa bikin Anda kaya dengan jutaan sekali tampil per jamnya.
Modal “tahu” saja memang cukup untuk menyokong Anda bicara berjam-jam dan cukup untuk pasokan bahan materi skripsi berpuluh lembar. Modal “tahu” saja mungkin bisa menyelamatkan Anda di panggung ceramah atau dunia pendidikan, namun bukan di arena kehidupan.
Dan jika Anda bersikeras bahwa modal “tahu” saja cukup, maka berilah setiap orang kitab suci terjemahan dan perhatikan berapa banyak dari mereka yang berhenti berbohong, melanggar lampu merah, atau menyerobot antrian.

0 komentar: